Skip to content
Published September 19, 2019 | 114 views

Apa yang sedang kita rayakan di tanggal 17 Agustus? Kemerdekaan. Apa itu merdeka? Mari kita lihat konteksnya dari kasus sejarah negara kesayangan +62 kita ini.

Kita merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan de facto Indonesia ketika kita sudah tidak lagi ditentukan nasibnya oleh orang lain, dalam hal ini orang lain itu ialah Jepang. Setelah naskah proklamasi dibacakan presiden Soekarno, saat itulah kita bebas karena Jepang kalah di Perang Dunia II dan kehilangan kuasanya atas kita ceritanya. Kita merdeka dari Belanda ketika 27 Desember 1949 secara de jure setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada waktu itu.

Merdeka sejak dalam pikiran

Siapa orang yang gua maksud belum merdeka sejak dalam pikiran? Sama seperti Indonesia saat terjajah, mereka adalah orang-orang yang berpikir, berbicara, dan bertindak karena orang lain. Mereka adalah orang-orang yang masih memikirkan apa yang orang lain inginkan terhadap diri mereka sendiri dan melakukan sesuatu hanya karena untuk pandangan orang lain. So dari definisi ini, kita tidak bisa ngejudge orang seperti ini hanya dari perilakunya. Bisa jadi loh orang yang sangat normatif dia sebenarnya orang yang sangat bebas merdeka sejak dalam pikirannya karena tahu bahwa apa yang dia lakukan memang bermanfaat untuk diri dia sendiri dan orang banyak. Beda loh antara figur publik yang menjaga imagenya karena (1) dia takut kehilangan fansnya atau (2) dia sadar dia punya pengaruh dan berharap memberikan contoh baik untuk orang banyak. Jadi kalau antum udah mau ngejudge temen antum adalah orang yang seperti ini, here’s what I say: jangan. Karena ini purely cuma diri sendiri yang punya pikirannya yang tahu.

Mengapa masih ada orang yang belum bebas sejak dalam pikiran? Ini menurut gue, setidaknya ada 2 hal yang membuat seseorang masih berpikir bahwa orang lain adalah poros keputusannya:

1. Diajarkan untuk melihat bentuk atau simbol ketimbang substansi

Video youtube menggambar pemandangan, untuk menggambarkan bahwa kita tidak diajarkan merdeka sejak dalam pikiran
Bahkan videonya ditonton lebih dari 100 ribu kali sejak artikel ini gua publish

Bahayanya, ini menimpa kita semua (mungkin ye). Kita selalu diajarkan untuk menggambar pemandangan sebagai dua buah gunung dengan matahari paginya diantara sawah-sawah yang ditanam para petani di pagi hari. Kita tidak pernah diminta menggambarkan apa itu indah atau apa yang membuat kita, as a human being, berpikir sesuatu itu indah. Kita diajarkan melihat matematika sebagai sebuah rumus ketimbang melihat matematika sebagai sebuah cara berpikir.

Kita diajarkan bahwa menikah itu adalah bentuk ibadah, ketimbang menikah itu juga adalah komitmen untuk bisa saling tahu kenal, bantu, dan jaga satu sama lain dengan waktu yang tidak terbatas. Ya makanya ada yang poligami tapi pada akhirnya dia tidak memikirkan perasaan istri pertama atau keduanya.

Penting juga di pekerjaan menurut gua untuk punya mindset merdeka ini. Ketika kamu berkarya karena kamu tahu bahwa kamu melakukan sesuatu atas dasar kepentingan banyak orang, bukan hanya karena keinginan banyak orang atau stakeholders. Tentu hal ini tidak akan membuatmu jadi rebel, karena dengan mindset ini justru lu akan memikirkan banyak faktor untuk mencari jalan tengah pada akhirnya.

2. Confirmation bias karena narsisme berlebihan

Bias konfirmasi itu adalah kecenderungan untuk menafsirkan bukti baru sebagai konfirmasi keyakinan atau teori yang lu sudah yakini. Bias konfirmasinya sih emang udah salah, kita memang tidak boleh terjerumus dalam fallacy ini. Namun jika ini muncul karena kekaguman dan kesombongan egoistik akan ciri pribadi lu untuk mengejar pengakuan dari orang lain, ini yang membuat lu sudah terpasung dari opsi lainnya dalam hidup.

Ini cukup jelas gak sih? Kayaknya tidak perlu dielaborasikan lebih.

Basically gua tulis ini for reminding us supaya jangan peduliin omongan orang karena judgementnya, tapi emang dari substansi cacian atau kritikannya atas kita. Juga sebagai bentuk kekesalan gua sama orang yang menganggap kemerdekaan dalam berpikir, open-minded attitude, melulu tentang against the current.

Ya menurut gua orang yang open-minded adalah mereka adalah orang-orang yang berpikir, berbicara, dan bertindak karena substansi dan manfaat yang dia ketahui. Bukan hanya dari orang lain, tapi juga dari buku, pengalaman, atau abang-abang gojek yang ia tumpangin pas pulang kuliah. Mereka adalah orang-orang yang memikirkan orang lain dalam pengambilan keputusannya, tapi bukan dari penilaian orang lain atas apa yang akan mereka lakukan – melainkan substansi masalah dari yang orang lain bawa. Dan kedua hal diatas menurut gua, yang akan membuat seseorang tetap tidak merdeka sejak dalam pikirannya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *